Nilai-nilai Karakter yang Perlu Dikembangkan dan Internalisasinya

Pembentukan karakter, baik untuk tiap pribadi individu, maupun sekelompok individu kelak akan berdampak pada lingkungan di sekitarnya. Apabila karakter itu bersifat positif akan membawa manusia pada kedamaian, kenyamanan, tidak akan kehilangan banyak waktu yang tidak bermanfaat dan kebaikan lainnya, sebaliknya apabila karakter itu bersifat negatif akan membawa pada ketidaknyamanan, akan mudah timbul amarah, dan hanya akan kehilangan banyak waktu yang tidak bermanfaat. Pada dasarnya manusia itu baik hal ini merupakan fitrah dari Allah SWT sejak manusia itu lahir. Manusia dapat dianalogkan menjadi 3 yakni sebagai aku mineral, aku tumbuhan dan aku hewan. Aku mineral adalah diri manusia sebagai subjek yang memiliki kandungan dan suci, yang seperti materi, patuh total dan tanpa kehendak. Aku tumbuhan adalah diri manusia sebagai subjek yang menyantuni sekelilingnya, sedangkan aku hewan adalah diri manusia sebagai subjek yang menjaga keberadaannya, baik secara ofensif maupun defensif. Maka pada hekekatnya, manusia mengandung sifat-sifat terbaik dari alam. Maka manusia harus didorong untuk melakukan transformasi kesadaraan, sehingga ia mampu merasakan bahwa dirinya adalah bagian dari alam. Kendati setiap individu memiliki ego dan kepentingan-kepentingan pribadi yang dapat bertentangan dengan ego individu lain, namun mereka harus menjalin hubungan kerjasama, sebab manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri guna memenuhi kebutuhannya yang demikian banyak dan beragam dengan kata lain manusia hidup dalam komunitas yang diikat dengan cinta (love), komitmen (commitmen), kepercayaan (trust), respect, bertanggung jawab ( responsibility), kepedulian (caring), dan kebaikan (kindness) Guna langgeng dan harmonisnya jalinan kerja sama itu, maka harus dibangun atas dasar manfaat dan keuntungan bersama, bukan bertujuan untuk menang sendiri atau kepentingan kelompok tertentu. Dari sinilah diperlukan moral, di mana seseorang mengorbankan sebagian kepentingan egonya demi mencapai tujuannya, bahkan demi membantu yang lain untuk mencapai tujuannya. Perlu dicatat bahwa jiwa manusia merasakan kenikmatan rohani melebihi kenikmatan jasmani setiap berhasil mengendalikan dorongan nafsunya, selama kalbunya masih berfungsi dengan baik. Karena itu, dalam konteks meningkatkan kesadaran moral, perhatian harus banyak tertuju kepada kalbu.
Dalam pembentukan karakter diperlukan pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan bijak dan dapat mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai karakter yang perlu ditanamkan kepada anak-anak adalah nilai-nilai universal yang mana seluruh agama, budaya, dan tradisi pasti menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai universal ini harus dapat menjadi perekat bagi seluruh anggota masyarakat walaupun berbeda latar belakang budaya, suku dan agama. Menurut IHF[1] 9 pilar karakter tersebut dirangkum, diantaranya : 1) Cinta Tuhan dan Segenap Ciptaan-Nya, 2) Kemandirian, kedisiplinan dan Tanggung Jawab, 3) Kejujuran/ Amanah, Bijaksana, 4) Hormat dan santun, 5) Kasih saying,kepedulian dan kerjasama, 6) Percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah 7) Kepemimpinan dan keadilan, 8) Baik dan rendah hati, 9) Toleransi, cinta damai dan persatuan. Nilai-nilai karakter yang ditanamkan ini diharapkan dapat menciptakan kemajuan suatu bangsa.
Perdebatan tentang nilai-nilai yang ingin diajarkan dalam pendidikan karakter masih sering berlangsung pada tingkat akademik, walaupun tidak pada masyarakat kebanyakan. Secara garis besar ada 2 kubu pendapat yang saling berbeda. Pertama mereka yang berpendapat bahwa tidak ada kebenaran absolute dan kedua mereka percaya bahwa kebenaran moral adalah relative ( moral relativism ) kedua moral tersebut dikembalikan kembali kepada masing-masing individu itu sendiri. Menurut Ratna Megawangi (2004) kubu tersebut mengunggulkan metode pendidikan karakter dengan cara “value clarification” tanpa menerapkan standar baik dan buruk, dan biasanya dilakukan dengan cara diskusi di kelas. Cara ini banyak sekali dilakukan di sekolah-sekolah negeri ( public schools) di Amerika Serikat karena keberhasilan advokasi kelompok liberal kiri Amerika terutama antara tahun 1960-an sampai 1970-an. Pendekatan moral relativism ( kepercayaan pada tidak adanya standar moral yang absolute) sudah menjadi kebijakan Negara yang wajib diterapkan oleh public schools di AS yang bahkan melarang memakai konsep agama tentang moral baik dan buruk. Value clarification atau moral reasoning, yaitu pendidikan moral yang memberikan kebebasan kepada individu untuk mendefinisikan moral menurut keyakinannya masing-masing, asalkan ada pembenarannya. Moral relativism dan absolutism memiliki 2 unsur positif dan negatif. Moral relativisn yang bersifat positif adalah flexible, bebas, lebih toleran, cepat menerima perubahan sedangkan dalam sifat negatifnya seperti tidak ada aturan, meresahkan, ketidak stabilan social cenderung condong ke ekstrim kiri. Pada moral absolutism yang bersifat positif antara lain : acuan moral jelas, patuh pada aturan, dan ketertiban sosila terjamin sedangkan untuk sifat negatifnya seperti berfikir hitam putih, sulit melakukan perubahan, tidak kreatif, tidak toleran dan condong pada ekstrim kanan
Dalam mentransformasikan kesadarannya akan sesuatu yang bersifat posiif maupun negatif dapat digambarkan dengan yin/yang. Menurut Sachiko Murata dalam The Tao of Islam, manusia yang sempurna adalah manusia yang telah menyatukan sifat-sifat yin (feminin positif) dan yang (maskulin positif), menjadi kesatuan sempurna. Dalam perspektif Tao, kesatuan sempurna ini disimbolkan oleh kesatuan yin/ yang dalam sebuah bulatan hitam dan putih. Menurut Murata, sifat-sifat positif ini adalah simbol dari sifat-sifat Tuhan yang dapat dimanifestasikan dalam diri manusia, yaitu sifat-sifat Tuhan yang jamal (feminin positif; Pengasih, Penyayang, Lembut), dan sifat-sifat yang jalal (maskulin positif; Kuasa, Besar, Agung). Namun masalahnya, sifat-sifat yang ada dalam diri manusia lebih didominasi oleh dimensi negatif dari yin/ yang ( Megawangi 2005).
Dalam uraian Sachiko Murata dikatakan bahwa prinsip-prinsip dualisme dapat dinisbatkan dalam konsep yin dan yang. Konsep yin (feminin) adalah sifat yang berkaitan dengan bumi, reseptivitas, hamba, keindahan, sedangkan konsep yang (maskulin) adalah kualitas yang berkaitan dengan tinggi, langit, khalifah (pemimpin), keagungan. Kebanyakan manusia memanifestasikan sifat yin negatif, karena kecintaannya pada dunia. Hal ini terkait dengan kata dunia (dunya) yang merupakan gender feminin. Banyak ayat Qur’an dan hadits yang mengimplikasikan bahayanya kecintaan terhadap dunia dalam usaha meningkatkan ketakwaan manusia. Seperti yang tertera dalam QS (57:20), “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia ini hanyalah main-main, senda gurau dan saling membanggakan kekayaan dan anak keturunan di antaramu.” Kemudian kecenderungan manusia untuk mencintai dunia, “Manusia berkeinginan akan cinta syahwat terhadap wanita, anak-anak. Kekayaan yang melimpah ruah dari emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Semuanya adalah kesenangan dunia” (QS 3:14)
Manusia yang cinta kepada dunia adalah yang jiwanya dikontrol oleh nafsu terendah (nafsu amarah). Oleh karena itu ada sebuah hadist yang mengatakan yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim: “Di antara tanda-tanda akhir adalah bahwa pengetahuan hilang, kebodohan merajalela, perzinahan menjadi kelaziman, anggur diminum, kaum pria semakin sedikit, dan kaum wanita semakin banyak, sehingga lima puluh orang wanita hanya akan mendapatkan satu orang pria untuk menguasai mereka”. Artinya, sifat “wanita” atau feminin negatif adalah sifat kebanyakan manusia, baik pada pria maupun wanita. Pria dan wanita mempunyai kapasitas yang sama untuk masuk neraka atau masuk surga. Namun, di balik kualitas feminin negatif yang mendominasi perangai manusia, adalah juga cerminan dari sifat maskulin negatif. Manusia berlomba-lomba mencari apa saja yang dapat memuaskan nafsu hedonistiknya, yaitu lebih pintar, lebih kuat, lebih kaya, lebih berkuasa, yang semuanya terlihat dari semakin banyaknya manusia yang membuat kerusakan di muka bumi. Sifat maskulin negatif ini bisa pula terlihat dari keinginan untuk lebih dari orang lain, walaupun dibalut dengan unsur-unsur kebaikan, misalnya “aku lebih beriman”, “aku lebih bermoral”, “aku lebih dermawan”, sehingga sering menghakimi orang atau golongan lain. Padahal, manusia memerankan peran unik di alam semesta, yaitu sebagai wakil (khalifah) Allah di muka bumi. Namun, kebanyakan manusia menganggap bahwa menjadi khalifah adalah situasi sesungguhnya, bukan kedudukan yang harus diraih melalui perjuangan batin. Akibatnya, manusia mengklaim dirinya sebagai penguasa, agung, dan besar, dan ini tentunya sangat berbahaya, karena jiwanya masih dikendalikan oleh nafsu terendahnya, atau jiwa yang menguasai kejahatan.
Jiwa manusia yang menguasai kejahatan adalah berasal dari sifat setan, yaitu sifat yang ingin meninggikan diri, “Aku lebih baik dibanding dia” (QS 7:12). Ketika jiwa dikuasai oleh sifat-sifat api (esensi setan) yang ingin meninggikan diri dan menghabiskan (membakar) segala sesuatu yang dikuasainya, jiwa tersebut menegaskan sifat maskulin yang negatif. Banyak sekali terlihat kerusakan di muka bumi karena kuatnya kontrol maskulin manusia terhadap bumi, misalnya eksploitasi kepada alam, penindasan, saling mengalahkan, aksi terorisme, peperangan dan sebagainya. Oleh karena itu, seperti mata uang dengan dua sisi, kualitas feminin negatif adalah juga cerminan dari kualitas maskulin negatif ( Megawangi 2005). Menurut Ratna Megawangi (1999) individu-individu yang mempunyai sifat-sifat yang positif akan menciptakan kedamaian, keadilan, kebersamaan di mana masing-masing individu dapat menghormati sesamanya.beliau juga menekankan bahwa sifat positif inia adalah menyangkut keseimbangan yin/yang, bukan salah satunya saja yang dominan.
Dalam hidup kita harus punya keberanian mengatakan sesuatu yang kita inginkan, jangan hanya di mulut tapi harus merasuk dalam batin dan direalisasikan, dan ini harus tetap dilakukkan. Bila kita selalu tetap mengatakan sesuatu yang kita inginkan sebenarnya disitu berperan suatu aturan/hukum alam (the great law) yang akan membentuk suatu kebiasaan-kebiasaan yang memang kita diharapkan dan kebiasaan-kebiasaan itu hendaknya bersifat positif. Hal ini tidak hanya akan berdampak untuk diri sendiri akan tetapi orang lain dan lingkungan juga akan merasakan dampaknya. Misalnya saja jika kita menerapkan sifat rendah hati, dengan sifat ini kita tidak perlu merasa canggung untuk belajar, bertanya dan mencontoh semua sikap yang baik dari orang lain. rendah hati juga memungkinkan orang menjadi bijaksana dan tidak takabur. Karena itu, sikap ini menjadi daya tarik kuat bagi orang lain untuk berkomunikasi, dan akhirnya menjalin interaksi bisnis atau karir. Contoh lainnya seperti keadilan (natural justice) dan suka menolong (helpful) dari nilai keadilan ini kita dapat mengetahui hal yang baik dan buruk dalam masyarakat, sehingga kita mengetahui prilaku yang merugikan orang lain seperti mengambil yang bukan haknya itu merupakn sesuatu yang tidak baik, selain itu dari nilai ini juga akan tumbuh pula karakter jujur, dan tanggung jawab dari diri seseorang sehingga setiap orang dapat memenuhi kewajiban serta haknya masing-masing. Dengan suka menolong kita senantiasa selalu memiliki keinginan untuk menolong orang lain tanpa pamrih sehingga secara tidak langsung dan tanpa disadari kita telah membantu orang lain yang membutuhkan misal dalam bantuan materi maupun moril dengan demikian tidak hanya saya yang menikmati buahnya lingkungan masyarakat sekitar saya pun hidup sejahtera.

Kesimpulan

Nilai-nilai karakter yang perlu dikembangkan adalah nilai-nilai yang bersifat pisitif artinya baik untuk diri sendiri, dan orang lain pada umumnya. Prinsip sembilan pilar yang dikembangkan oleh IHF merupakan shared-values yang dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kekhawatiran beberapa pakar akan adanya “whose values?” yang harus ditanamkan kepada anak-anak, tidak relevan dalam hal ini karena kesembilan pilar ini tidak diragukan lagi kebenarannya dan sesuai dengan ideologi bangsa Indonesia yaitu pancasila. Diharapkan dengan menanamkan 9 pilar ini, manusia Indonesia yang berkarakter dapat terwujud.

Daftar Pustaka

[Anonim]. 2009. Apakah Maskulin dan Feminin Itu ?. [Terhung Berkala]. http://psikologi-online.com : [ 9 Januari 2010].
Faridana. 2007. Proses Transformasi Diri Melalui Transendensi dan Imanensi. [ Terhubung Berkala]. http://multyply.com : [9 Januari 2010].
Megawangi Ratna. 1999. Membiarkan Berbeda ? : Sudut Pandang Baru Tentang Relasi Gender. Bandung : PT Mizan Pustaka.

Megawangi Ratna.2004. Pendidikan Karakter : Solusi Tepat Untuk Membangun Bangsa. Jakarta : Indonesia Heritage Foundation.

Megawangi Ratna. 2005. Transformasi “Yin/Yang Melalui Puasa”. [Terhubung Berkala]. http://www.suarapembaruan.com : [9 Januari 2010].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s