Terinspirasi

Saya ialah seorang mahasiswa serta alumnus mahasiswa FMIPA IPB, pada jurusan biologi saat itu. Saat dimana saya masih bercengkrama dengan lakon sebagai asisten mata kuliah (MK) biologi cendawan. Salah satu MK yang menjadi momok menakutkan bagi sebagian mahasiswa biologi maupun mahasiswa antar mayor, karena memang adanya “biocen” panggilan mereka untuk MK ini. Biocen ialah mata kuliah yang mempelajari ragam cendawan serta perannya di muka bumi dimana cendawan ini masuk dalam kerajaan Fungi.

“Susah kak..” begitu seru mereka, mereka ialah praktikan saya, sekaligus adik kelas yang ababil hehehe..Saya akui pelajaran ini tidak mudah saat dimana pernah menikmati MK ini di semester ke-4, ada keinginan kuat untuk memperbaiki sepertinya menjadi kunci sukses untuk menghadapi segala tantangan bukan?. Hampir di beberapa pertemuan saat praktikan sudah memberikan kesan bosan karena aktivitas praktikum di dalam laboratorium seperti mengisolasi, meremajakan isolat, menggambar, dan mengamati objek pada mikroskop, apalagi saat ekspresi putus asa itu muncul di raut wajah praktikan ku sayang karena mendapatkan hasil ujian tengah semester (UTS) yang mematahkan semangat, saya akan selalu mengingatkan kepada mereka “kerja keras…dulu saya mendapat poin 40 dari skala 100 saat UTS. Saya sadar poin/nilai tidak berhenti hanya disini nilai akhir bukan segalanya (itu pemikiran saya yang sering kali memperoleh nilai buruk di setiap MK biologi). Hanya perubahan yang mengarah lebih baik akan memberi hasil yang terbaik kelak, asal jangan merasa cepat puas. Kalian dapat mengejarnya di ujian praktikum sesi 1 dan 2, serta ujian kuliah saat UAS. Kalau tidak mau berubah pola belajarnya, ya sudah dipastikan hasilnya tidak akan jauh berbeda. Tanyakan saat kalian tidak mengerti, asisten disini juga sedang belajar jadi sama-sama kita belajar” begitu kataku panjang lebar.

Selama dua semester saya lalui dengan praktikan pada mayor yang berbeda. Kesan, dan tantangannya juga berbeda. Semester genap saya mengawalinya dengan mengasisteni mayor biologi angakatan 47, selisih dua tahun dari angkatan saya. Kesan pertama praktikan yang lucu, rajin, dan ada juga yang pemalas, tetapi saya anggap itu wajar dan biasa. Awal yang menyenangkan karena mereka penurut, tetapi ada yang menjanggal di hati karena saya harus mengasisteni 2 orang rekan se-angkatan. Dua orang tersebut ialah pengulang, satu diantaranya terancam DO karena MK ini. Tanggung jawab yang cukup sulit, mulai dari menghapuskan momok menakutkan MK ini di kalangan mahasiswa tetapi saya juga merasa harus bertanggung jawab untuk menolong rekan se-angkatan dari rasa terancamnya. Begini kah pendidikan di Indonesia?DO bukan karena prilakunya yang membuat nama almamater tercoreng, tetapi karena ilmunya belum dikuasai secara sempurna dan harus terdaftar dengan angka penghias ijazah, angka yang hanya ada dari 0-9 atau nilai mutu yang mewakilinya. Ini memang sudah menjadi aturan mainnya dan hal ini yang masih menjadi pemikiran saya selaku orang terdidik. Saya pernah jatuh sakit memikirkannya, hingga difonis oleh dokter yang menyatakan saya stres. Bagaimana tidak, saya tiba-tiba sesak nafas, dada terasa terhimpit, linu, dan ini tidak sekali dua kali saya rasakan sewaktu disemester ketiga tak pernah memiliki riwayat penyakit paru-paru, saya cepat ambil tindakan untuk merongen dan mau tau hasilnya? dokter yang menangani saat itu spesialis paru-paru, beliau tidak praktik dihari saya berobat jalan, sebelumnya beliau mendiagnosis ada gangguan pada tulang belakang (bagian punggung) yang menyebabkan tarikan nafas menjadi sulit dan akan terasa linu dibagian tulang rusuk. Ini saya akui cukup benar untuk penyataan diagnosis karena tas ukuran besar yang saya pikul porsinya selalu berat dibandingkan dengan massa tubuh yang mini sehingga jalanpun sampai membungkuk, mungkin ini penyebanya. Ok saya rasa cukup saya saja yang merasa sulit melaluinya, dan aturan akan menjadi aturan,bagi yang mau menantang, DO taruhannya.

Empat belas kali tatap muka, bukan sesuatu yang mudah..apalagi saat ujian tiba aduh rasanya saya tak ingin mengawasi mereka. Selama memberi materi saya tak pernah terlihat serius, saya ingin suasana belajar sambil bermain. Begitu juga saat ujian, saya paling gerogi ketika dulu ujian ketok, bayangkan saja waktunya hanya 1,5 menit berlari, kemudian membaca atau mengamati, bahkan keduanya. Menjawab dalam kondisi yang tak nyaman, apa boleh buat itu juga aturan mainnya. Saya selalu nakal beberapa kali melihat soal dan mengamati isi tiap kepala praktikan saya, dahsyat ternyata 1 soal itu tak ada yang bisa, makasudnya hanya beberapa yang istimewa dapat menjawab. Bukan dosen namanya kalau tidak memberi kesulitan, saya pancing mereka untuk mengingat, sekali kata kunci belum ada reaksi, dua kali kata kunci agak bereaksi, yang ketiga kali tak dapat menjawab juga…saya akan mengeluarkan kuncinya. Itu pun ada juga yang masih blank, biasanya saya akan tinggalkan mereka dengan kebingungannya ada malah yang sempat bilang terima kasih, akhh bodoh dasar asisten bodoh “hinaku dalam hati”.

Dua rekanku, mereka tampak berusaha walaupun mereka sadar betul tak menyukai MK ini, bahkan sangat membencinya. Tetapi mereka mampu, sayapun mampu memberi semangat. Sampai suatu ketika berkas ujian tengah semester sampai ditanganku untuk dikoreksi, akh lagi-lagi harus ku lihat nilai-nilai yang tak ada artinya ini, aku melapor pada dosen koordinator yang merupakan dosen pembimbing tugas akhirku, “bu, teman saya dengan nama si a dan b mengambil MK ini dan salah satunya harus selamat di semester ini bagaimana caranya ya bu?, sedangkan dengan nilainya sekarang…terhenti air liurku dan siap ditelan” beliau mengangkat alisnya dan mengambil posisi duduk berwibawa, ciri khas andalannya mantap, “oh..ada teman seangkatanmu?siapa namanya?dan apa maksudnya harus selamat?” tanyanya, langsung saya jawab dengan pasti, “iya bu namanya si a, ia telah mencoba mengulang karena memang wajib diulang dan ini sudah kesempatan terakhirnya, jika gagal DO taruhannya glekkk ludah terakhir ditelan lagi”, dengan cepat juga beliau bereaksi, “saya minta nomor ponselnya dan kamu cari anaknya sekarang untuk temui saya”,,senyum dalam hati mantap ini baru dosen sesungguhnya. Mencari dan memberi yang terbaik pada ukiran gerbang pintu utama pantas ditampilkan..TOP deh ibu pembimbingku, mencari solusi dan mencoba membantu yang terbaik dengan caranaya. Saya pikir tanggung jawab saya sudah terbagi saat itu, akh bodoh belum berhenti disini masih ada tujuh kali pertemuan.

Keyakinan gue yang membawa jadi berani, gue yakin suatu hari nanti kita akan belajar untuk mencari dan memberi yang terbaik. Bukan hanya untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain. Dua rekan gue bukan orang yang teringgal, mereka udah tunjukin mereka bisa, hanya mereka butuh daya untuk menghadapinya. Tinggal gimana orang-orang disekitar mau peduli, toh mereka juga tidak pernah meminta untuk diberi. Selama kuiah gue hanya mengikuti aturan mainnya, merasa terombang ambing, merasa menjadi orang bodoh, atau jadi stres udah gue laluin. Siapa sangka gue bisa lulus on time walaupun gue sadar tak pernah melakukan hal itu sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s