Step 3 back to life

Sabtu, 3 Oktober 2015

Pukul 06.30 pagi, suster rumah sakit sudah aktif menjelajahi koridor hingga mengetuk pintu tiap kamar inap. Diikuti pula dengan cleaning service dan pramusaji, mereka sigap mengerjakan tugasnya pagi ini. Aku pun terbangun karena disuruh mandi oleh suster hahaha… (padahal yah suster, saya tak ada niat sedikit pun mandi) namun karena nanti akan ada luka di bagian tubuh saya, akhirnya niat mandi langsung muncul. Pramusaji mencatat apa yang ingin saya makan setelah operasi, padahal pukul 02.00 saya sudah sarapan bubur ayam, karena harus puasa. Saya dijadwalkan masuk ruang operasi pukul 08.30 dan tepat pukul 09.00 eksisi sel abnormal di kedua payudara saya, jenis operasinya “eksisi bilateral mamae guide USG” (kira-kira sih begitu, maaf kalau salah penulisannya soalnya tak mengerti tulisan dokternya).

Yap… tepat pukul 08.00 kursi roda dan suster muda berkacamata, berperawakan ramah, bertubuh kurus, dengan rambut lurus hampir sebahu mirip dora, dengan tenang mengajak saya ke ruang operasi yang berada dilantai 3. Ia pun bercerita pengalamannya operasi payudara, dengan indikasi yang sama dengan penyakit saya. Ok, cukup membuat saya tenang. Usai subuh saya sudah tidak merasa takut, hingga  perjalanan saya turun ke lantai 3, sesampainya di ruang pra operasi saya pun langsung berdiri dan masuk sendiri tanpa dituntun suster. Mereka pun kaget… suster: “ekh ko belum disuruh turun sudah jalan saja, coba semua pasien begini “katanya hahaha saya hanya ketawa. Suster diruang pra operasi juga bingung mereka langsung siap-siap. Dan disanalah saya ditelanjanginya tanpa ragu-ragu. Alat detak jantung dipasang sudah, tak lupa tensi diukur pula. Saya dengar bunyinya alamakk.. mengapa jadi berdangdutan begitu, terasa euforia pembuluh-pembuluh darahku. Ok tubuh saya hanya dibalut selimut berwarna hijau hampir tosca, si suster sih mengajak ngobrol selalu, mulai dari mengomentari “duhh jangan takut nih detaknya kencang jadinya”, atau bertanya “masih sekolah? dimana?” Saya jawab, “ sudah kerja suster, mengajar” waduh saya pikir kamu masih sekolah, sudah jadi guru yah kecil-kecil begini, siswanya pasti besar-besar, mengajar dimana? “hehehe iya sih suster siswa sekarang besar-besar, saya mengajar di pendidikan non formal di bimbel bintang pela***” susternya langsung eling “ooo bimbel yang mahal itu, wah kalau saya tak sanggup masukin anak saya kesana, di sekitar Bintaro ada kan yah” tanyanya. “Iya suster ada, emang sih harganya mahal banget yah sus”. Kemudian ia membawa topi ulangtahun berwarna hijau (hehehe, ini sebutan mereka buat penutup kepala yang biasa dipakai kalau mandi, tahukan? tahu dong) “yuk pakai topi ulang tahunnya dulu” serunya pada saya, jilbab saya pun sudah ditanggalkan bersama dengan baju. Ok sebentar yah tunggu dokter anastesi buat penjelasan nanti di ruang operasi dan iapun meninggalkan saya.

Tak lama dokter anastesi yang cantik jelita pun datang, “Helo” sapanya dengan ramah, kalau boleh tahu, akan operasi apa?, indikasi FAM bilateral dok jawab saya, “di kanan dan kiri mu? Besarnya berapa? Dan sudah berapa lama?” tanyanya kepo hehehe. Sampai akhirnya ia memberi penjelasan, “para dokter dan suster disini mengharapkan hasil yang terbaik, operasi ialah langkah awal untuk memastikan apakah benar ia FAM, kita berharap begitu yah. Santai saja, kan nanti kamu tidur”. Ada suster yang datang dan mengingatkan “dok, sudah boleh dibawa ke ruang operasi kata dokter Bayu”..dokter anastesi yang cantik langsung bilang “oke” ,  dan tubuh yang terbaring pasrah ini mengikuti dorongan para suster menuju ruang bedah, koridor-koridor dengan pintu dan cat berwarna cokelat muda, sedikit gelap, dingin, dan fiuhhh… masuklah saya ke dalam kulkas hehehe. Pertama kali yang saya lihat ialah lampu exit berwarna merah di bagian atas pintu dan microwave?? Buat apa microwave disana? Suster yang memperhatikan saya bergumam pun menyaut, “iya itu buat bikin roti, kopi, atau buat kue hehehe” kata suster yang membawa saya dan  saya menambahkan nanti daging saya dimasak yah suster? Mereka tertawa…dari tempat tidur dorong, saya dipindah ke tempat tidur bedah. Saya sempat bingung hanya ada lampu sorot yang biasa saya temui di dokter gigi, tak ada pisau bedah yang berjejer disana, tak seperti cerita yang pernah saya baca dari pengalaman pasien operasi. Suster dan dokter anastesi sibuk memasang alat-alat ditubuh saya, tubuh dengan kemben selimut di ruang ac yang super dinginnnn.. tetapi dinginnya tidak mengalahkan dinginnya camp. kandang bandak kok. Pintu berlogo exit diatasnya terbuka, ternyata yang masuk dokter Bayu, beliaulah yang akan mengambil alien ditubuh saya. Ia sudah lengkap dengan pakaian astronotnya, pakaiannya berwarna sama hijau hampir tosca dengan topi ulang tahun dan masker, kecuali dokter anastesi ia mengenak baju berwarna ungu, dan para suster dengan warna biru laut. “helo agil, sudah siap yah operasi, dua payudara kan kita hari ini?” ia pun memastikan mental saya, saya jawab dengan mantap “iya dok” ia pun mengangkat ibu jarinya, dan pergi lagi, ternyata masih ada operasi di kamar bedah sebelah, bayangan dokter pun pergi bersamaan dengan menutupnya pintu.

Dokter anastesi mulai mengarahkan para suster untuk mengambil obat bius, entah bahasa apa yang dipakai, yang saya masih ingat ialah suster menyuruh saya melebarkan tangan saya, menyerupai burung elang lagi swaring :p , siap yah saya suntik obatnya.. bersamaan obat bius yang cepat mengalir ke pembuluh darah saya, mulai kunang-kunang begitu banyak dipandangan saya, awalnya tampak jelas, lama-lama kabur, dan dokter cantik jelita meninabobokan saya sampai akhirnya tak saya dengar suara lagi. Operasi berlangsung cukup lama, mulai pukul 09.00- 13.00 mungkin, karena saya baru tersadar dipukul 13.30, awalnya saya mulai mendengar suara ramai, kemudian blower didalam selimut, lalu saya buka pelan-pelan kelopak mata, akhh pusing, saya tutup lagi kemudian saya buka kembali “sempurna” , kerongkongan saya kering pengen teriak “bagi minum dong sus, tetapi yang keluar “jam berapa sekarang suster?” ..perih-perih mulai merajalela, saya coba intip apa yang terjadi, apakah mamae masih pada posisinya.. “alhamdulillah, ukurannya saja yang cukup agak bengkak karena mengalami inflamasi”, keluraga terutama bapak, bunda mungkin cemas diluar sana anaknya tak muncul-muncul hampir 4jam, orang pertama yang masuk bapak dan om saya dengan pakain baju pengunjung icu berwarna hijau hampir tosca juga, mereka bilang “ coba dari dulu-dulu mau dioperasi” kata bapak, om pun melanjutkan “sudah-sudah semua sudah berlalu, sehat yah gil”..mereka keluar, disusul bunda dan tante saya… Ya Rabb inikah kasih sayang-Mu padaku menghadirkan orang-orang yang begitu mencintai saya. Apakah setelah operasi saya sehat? Pasti ! saya harus sehat… hasil lab. Patalogi masih sekitar seminggu, dan terus berdoa hasilnya yang terbaik.

Kunjungan keluarga,kerabat, dan sahabat membuat saya terhibur dari rasa nyeri dan linu🙂 terima kasih atas doa kalian dan kasih sayangnya

sepenggal puisi

Hidup Kembali

Tuhan….

Apa maksud-Mu mengaktifkan onkogen di kedua buah dadaku?

Ia yang tumbuh selama satu tahun lebih satu bulan tiga hari

Selama itu aku bertahan dan bermustajab padaMu

Tuhan….

Apa maksud-Mu menghilangkan cintaku padanya di bulan Juli?

Ia yang menerimaku apa adanya selama 6 tahun lebih tujuh bulan tiga hari

Selama itu aku berteman dan berharap padaMu ia jodohku

Tuhan….

Hatiku yang Kau miliki

Dalam tiga hal Kau menguji dan tertulis disana…

Di Lauh Mahfuz sebaik-baiknya perjanjian Kau dan aku

Tuhan….

Betapa arogannya aku padaMu !

Engkaulah zat Yang Maha membolak-balikan hati

ujianMu menegurku dengan lembut

kini ku tahu maksudMu….

Tuhan….

Betapa Engkau tak pernah meninggalkanku mesti hanya satu sekon,

Engkau memelukku selama tiga jam tiga puluh menit, diruang dingin itu….

Bersama puluhan doa dari para keluarga,kerabat, dan sahabat

Dan Engkau selamatkan aku….

Tuhan….

Aku hidup kembali….

Puji syukurku PadaMu

Tuhan….

Ingatkan aku pada Sijjin dan Illiyyin atas apa yang aku perbuat

Agar aku mendapat cinta dan kasih-Mu di hidup baruku

Tuhan….

Ku mohon jangan tinggalkan aku mesti hanya satu sekon….

by: Agilun

LOMBA CIPTA CERPEN DAN PUISI

FESTIVAL SASTRA ISLAM NASIONAL 2015

Forum Lingkar Pena

Saya pun harus dengan hati yang lapang melepaskan beban dan mengikhlaskan sesuatu yang pernah saya cintai dengan orang terbaik. Biarlah rasa sakitku menjadi penawar dosaku dan biarlah Allah yang mengatur orang terbaik untukku yang mampu mencintaiku tulus karena-Nya dan menerima kekuranganku. Skenario-Nya indah maka tak pantas aku mengeluh.🙂

Pada tanggal 13 Oktober 2015

Saya kembali ke rumah sakit, untuk kontrol dan mengambil hasil.

mau tahu hasilnya? alhamdulillah, hasilnya sama dengan diagnosis selama setahun ini, berikut penjelasannya:

Sinistra: 1.5×0.8×0.5 cm dan 3×2. 5x1cm  (warna putih kekuningan, kenyal tanpa wire atau benang)

Dextra: 1x1x0.3cm,  2.5×1.2×0.5 cm,  2.2×1.5×0.4 cm, dan 3x3x1.5cm (warna putih kekuningan, kenyal)

Interpretasi: fibroadenoma mamma multiple bilateral

 

 

Ditemani oleh orang-orang tersayang, termasuk bayi berusia 3bulan yang merupakan keponakan pertama saya bersama bundanya. ia sangat tenang dan selama perjalanan hanya tertidur.

Jpeg

Nasyitha Naura Anjani bersama bundanya yang setia menemani saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s