Kalimat yang tercecer, Perlu disawer

“Lembayung memang tak cepat melesat pergi, ia perlahan hilang oleh gelapnya malam. Terima kasih atas diskusi yang menyenangkan”

Berdiskusi denganmu ialah pilihan yang mengajarkanku untuk berpikir logis, sederhana, dan cuek saja. Aku memiliki tempat untuk pulang, yah pulang untuk berkeluh dan diskusi denganmu. Hadirmu tak tentu, bertemu pun tak pernah bisa diagendakan. Sempat kamu yang membuat janji bertemu, akhirnya dengan cueknya kamu lupa jadwalnya atau justru kamu lebih ingin mengisinya dengan jadwal kerjamu. Aku memang tidak mengenalmu, begitupun juga kamu. Aku dan kamu hanya seperti orang di jalan yang pernah jumpa tidak sengaja, lalu lupa esoknya. Tidak…itu tidak berlaku untukku. Aku ingat betul perjumpaan itu, dengan latar lagu pahlawan di Surabaya. Aku dulu yang mencari tahu info tentangmu dalam keterbatasannya. Akhirnya bisa menjalin komunikasi denganmu melalui media sosial. Betapa aku menemukan oase di panasnya Bekasi.

Jika Tuhan ciptakan sebuah pertemuan, Dia juga menyiapkan kawannya yaitu perpisahan. Tetapi aku harus ingat beberapa orang tinggal dalam hidupku agar aku menghargai kenangan, beberapa orang tinggal dalam kenangan agar aku menghargai hidupku

Pernah aku bertanya pada Tuhan,

“apakah aku memang diciptakan untuk ditinggalkan?”

“apakah aku memang diciptakan untuk belajar dari terluka lalu mengobatinya seorang diri?”

“apakah aku memang diciptakan untuk menghibur antar manusia?”

Tuhan tidak langsung menjawab, sejak itu perlahan aku belajar, tertatih aku melangkah, bibirku terlalu kelu merapal doa, dan hatiku terlalu pekat bagai abu. Atas saranmu “jika kamu menyukai seseorang mintalah dengan Yang Punya-Nya bukan pada manusianya”, kalimat itu sejenak menenangkan kemudian bermakna ganda. Pertama aku percaya Tuhan satu-satunya Maha membolak-balikan hati dan kedua aku harus menempatkan hatiku pada sampul riangku. Kelak aku tidak ingin merepotkanmu dari segala rupa bentuk kesakitanku. Karena seperti diawal, aku diciptakan untuk terluka dan belajar cara mengobatinya seorang diri.

“Dikeheningan savana dengan ilalang berdaun kuning, tanganku sigap terbuka bagai elang, dibalik lensa aku teriak dengan lantang, tatkala adrenalin pun tertantang setelah mendengar lolongan anjing hutan memecah hening”

Sepenggal kalimatku putus-putus, beberapa tersebar di media sosial, aku sedang memungut satu persatu, mencoba menyusunnya menjadi rangkaian cerita. Cerita yang tak ku harap dapat dibaca dan dipahami manusia. Aku hanya ingin merangkainya untuk dikenang sebagai jejakku yang tercecer tak terurus, namun masih nyata untuk melekat. Pecahan harapanku tersawer bak air yang melesat jatuh di ketinggian 35 meter. Beberapa curug telah memberiku gambaran ketika buih air jatuh pasti sakit, lalu kembali tenang, riaknya saja yang kesana-kemari tak karuan.

Curug Sawer, Situ Gunung, Sukabumi (@agile pratiwi)

Iklan

Part 2 Untuk Caniago di Bukittinggi

Januari 2017

Apa kabar benih yang sudah menggugurkan daunnya?

Hingga tampak dahannya juga sudah menguning,

Ku dengar hatinya sudah bertaut pada seorang gadis rupawan yang lemah lembut perawainya, apakah masih kau jaga juga benihnya?

“iya, masih kusiram meskipun kusiram dengan air yang berasal dari kelenjar lakrimal di pelepuk mata ! ku pupuk dengan setia bercampur sabar, ku tambahkan vitamin berkualitas baik dalam doa, agar ia senantiasa bahagia

Meskipun tampak sekarat, benih ini sudah dewasa, tahu caranya bertahan maka digugurkannya daun-daun tua dan si pucuk enggan tumbuh karena khawatir akan memakan energi sisa. Maklum saja, si benih enggan berfotosintesis karena menunggu sang Carnezi Manef dari wallace tak kunjung datang. Benih tahu dia sedang singgah di hati lain.

Bagaimana dengan kamu? Tampaknya kau mulai lelah melihat aku yang berwarna pucat sekarang. Apakah oksigenmu masih cukup? Ya..paling tidak untuk melanjutkan perjalanan. Tampaknya kau menikmati hidup dengan perjalananmu tanpa dia disampingmu. Namun ku perhatikan kau banyak berpikir, apakah kau mencari cara untuk melupakan dia?

“aku tak akan lupa meskipun ini luka terus menganga, hujan senantiasa turun di malam Januari kali ini hari kesebelas, doaku masih sama semoga lekas bahagia”.

Februari 2017

Sejak tanggal 1 Januari 2017 aku bertemu denganmu, entah ini pertemuan yang terakhir atau suatu hari nanti aku mendapat undangan bahagia darimu dengan gadis bernama Ayu, yang lembut perawainya dengan kerasnya isi kepala. Aku berencana melakukan perjalanan ke kampung halamanmu, mencari jejak karakter yang melekat kuat dimimik wajahmu, pada fenotip lain yang menghiasimu. Sebuah perjalanan untuk mengenang, untuk bersenang dengan luka yang menang. Sejenak aku banyak termenung, mengapa Jubata memberi alur yang menawan ini untuk sebuah perjalananku. Kau tahu ada wajahmu ditumpukkan awan-awan putih, ada senyummu di bentang laut Jawa menuju Sumatera, ada keangkuhanmu pada ketinggian 35.000 kaki, dan kamu harus tahu untuk menaklukkan rasa takutku berpergian dengan transportasi udara, harus kubunuh ketakutanku yang sudah terekam selama hampir 26 tahun usiaku.

Perjalananku begitu mudah, aku mendapat fasilitas bintang lima dengan harga gratis selama disana. Perjalananku memiliki misi yang sebenarnya aku tak yakin apakah akan terealisasi. Perencanaan yang kau sebutkan via whatsapp sudah kutulis dalam buku perjalananku. Tempat-tempat yang kau rekomendasikan ditambah buku kelana bentang ranah minangkabau. Sesekali aku khawatir menemui karakter keras dari mimik orang sumatera, dengan nada suara tinggi yang seperti orang mengajak berkelahi, atau mensangsikan diri kalau-kalau tak bisa memahami bahasa orang minang karena perjalananku lebih banyak ditanah jawa yang lemah lembut perawainya dengan bahasa yang tidak asing ditelinga.

Jumat, 17 Februari 2017

Aku tiba dikampungmu, suguhan baliho destinasi wisata terpampang cukup besar didominasi dengan kawasan Pariaman, visit wonderful Indonesia sebenarnya sudah ramai dari bandara Soeta. Ternyata kampungmu rupawan, dengan noraknya aku mengirimkanmu foto dengan baliho wisata Pariaman dan baiknya kau masih meresponnya. Ku anggap itu angin segar, positif saja kau masih peduli walaupun namaku dihatimu sudah lama dilempar untuk pergi. Hari pertama aku bertemu dengan orang yang tidak pernah aku lihat sebelumnya hanya berkenalan via media sosial akhirnya terjalin kepercayaan. Destinasi perjalananku pertama di kampungmu ialah laut yang cukup biru mungkin karena pantulan langit yang sangat biru disiang terik, suhunya tak berbeda dengan dikotaku justru ini terasa menyengat. Dari sini aku menuju jembatan Siti Nurbaya yang memanjang 600 meter, berdiri di atas sungai Batang Arau. Sempat cari tahu cerita dibalik nama jembatan ini mengapa harus Siti Nurbaya?, apakah dia sosok pahlawan wanita di zaman kompeni? hayah ternyata cerita cinta yang tercermin di judul lagu “ kasiah tak sampai”.

Terngiang-ngiang lirik lagunya

malang bacinto..bintang jo bulan

kasiah digungguang dek matohari

bia bacarai nyao jo badan

putuihlah tali jantuang jo hati

cinto ka uda den baok mati

cinto den indak ado duonyo

cinto den hanyo ka uda surang

bia mangamuak topan jo badai

cinto den indak ado duonyo

bia didunia kasiah ndak sampai

yo di akhirat den nanti juo

uda den nanti dalam sarugo

Aku paham sekarang mengapa bundaku pernah berkata “berikan kebaikan untuk orang lain, berikan mereka rasa senang dan rasa cinta ndok, karena disanalah obatmu, jangan membenci apalagi mendendam ikuti saja skenario-Nya, berilah cintamu untuk sesama”

Kau mengkhawatirkan perasaanku pada seorang pria yang mengenalku 7 tahun silam, kau bertanya-tanya mengapa bisa rasa denai tumbuh padamu dalam durasi singkat dibandingkan kisah masa laluku. Sebenarnya aku tidak suka membandingkan apalagi atas sangsi yang kau pertanyakan. Kau tahu menjadi orang yang dikecewakan dengan membuat kecewa ke orang lain nilainya sama. Hanya kadarnya mungkin akan berbeda untuk semua orang, kalau kau sangsi itu wajar. Kamu sudah khatam perjalananku, kamu orang baru yang menjamah begitu banyak kisahku, bahkan kau menjadi pusat semestaku untuk memberiku semangat dikala jarum bius memasuki pembuluh nadiku.

” mencintaimu adalah keputusan yang tak perlu kusesali” -Boy Candra

Masa laluku sudah bahagia dan begitu juga kamu. Kini aku bertanya apakah aku masih pantas bahagia? Tentu, kau masih mengirimkan kata-kata semangatmu “gue pengen juga SUPPORT lo utk kesehatan lo” ini pesanmu yang masuk ke layar ponselku di bulan Januari 2017. Setidaknya ada sedikit mata air mengalir untuk benihku. Jelas sekarang misiku benar-benar tidak terealisasi atas perjalanan yang sudah aku lalui hari ini.

“Kau tahu ada wajahmu ditumpukkan awan-awan putih, ada senyummu di bentang laut Jawa menuju Sumatera, ada keangkuhanmu pada ketinggian 35.000 kaki”

Sabtu, 18 Februari 2017

Perjalanan keduaku menuju Padang Panjang, tepatnya Nagari Jaho. Setelah melalui lembah anai sampailah di pintu selamat datang Padang Panjang,. Dari sana aku banyak berbincang dengan keluarga baru. Di satu rumah yang hanya dihuni sepasang lansia karena putra dan putrinya yang merantau di Aceh dan Pekanbaru. Teman yang baru ku kenal tak sungkan-sungkan memperkenalkanku dengan keluarga temannya. Uni Fahma memang sosok yang baik hati, ia menyempatkan diri mengunjungi sepasang lansia ini karena temannya di Aceh memberi kabar bahwa bapak sakit stroke. Aku yang bingung mendengar bahasa minang sempat memutar otak memahaminya, sampai akhirnya aku hanya tinggal berdua dengan bapak yang sedang sakit diruang tamu karena mamak sedang mengantar uni ke tempat sholat. Ternyata Bapak lancar berbahasa Indonesia tetapi dengan logat yang terbata, bapak bercerita fase  drop setelah operasi pengangkatan tumor payudara disebelah kanan. Ya Allah, ada cerita dibaliknya kah? Aku bertemu keluarga baru disini dengan riwayat sakit yang sama, hanya saja ini seorang pria lansia. Bapak juga cerita tubuhnya kurus sebelum operasi, hingga menjadi gemuk sekarang. Pola makan yang tak terkendali dari pasca operasi membuatnya terserang kolesterol dan darah tinggi sehingga mengakibatkan stroke. Bagian tanganya masih terasa kebas, ia rajin mengkonsumsi herbal yang ia racik sendiri. Bapak juga bertanya tentang asal dan pekerjaanku, tak sengaja akupun juga cerita prihal tumor payudara padanya. Mimiknya berubah dan khawatir, diakhir perpisahan kami saat berpamitan bapak bilang “ nanti kalau kesini lagi, jangan lupa berkunjung kesini nak” aku jawab “ insya Allah jika ada rezeki aamiin, bapak cepat sehat yah”.

Kita tidak tahu perjalanan apa yang dibuat-Nya, menghadirkan orang-orang baik disekitar kita, memberi semangat yang tidak kita duga, mendapat cinta dari orang yang tidak kita duga, dan menemui fase perjalanan yang sama dengan orang lain. Ternyata kampungmu tetap sama dengan kampungku, RAMAH ! tentu saja kita di Indonesia.

Dari sana perjalananku menuju Solok, melalui Danau Singkarak. Bentangan danau alami terpanjang yang dipenuhi ikan bilih. Hmmm.. air tawarnya tetap beraroma amis yah, sayangnya sampah plastik disepanjang danau menghiasi sehingga menjadi terlihat kumuh. Itu sebabnya aku melarangmu buang sampah sembarangan, pandangan menawan jadi terasa kumuh hingga membuat tak nyaman berlama-lama disana. Terakhir aku sampai pada tugu ayam, perbatasan kabupaten Solok dan akhirnya kembali ke kota Padang melalui bukit barisan.

Ada siluet senja menemaniku dengan hutan alami yang terbelah menjadi aspal jalanan, indah ! meskipun rawan longsor. Tetapi perlu kau tahu rasa denaiku tak pernah kujatuhkan pada tempat yang salah, biarlah ia jatuh pada hatiku saja, dan kamu telah menjatuhkan hatimu pada yang lebih baik, semoga bahagia.

Minggu, 19 Februari 2017

Perjalananku yang ketiga, menuju Batusangakar dan Bukittinggi. Masih dengan rute yang sama dan aku cukup hafal, melalui lembah anai lagi, pintu selamat datang di padang panjang, mengambil arah batusangakar. Karena kau bertanya apakah berkunjung ke Istano basa pagaruyung? Aku jawab iya, aku akan kesana juga. Setelah mengalami pemugaran akibat kebakaran, istano ini tetap cantik. Perjalanan di batusangkar yang dikelilingi oleh padi menguning dan terasering yang berundak-undak ciamik sekali, ada gunung merapi dan singgalang di kanan dan kiri jalan akh…. ini nikmat sekali. Aku ingin disini saja, menjadi petani dan hidup sederhana di rumah panggung dengan dinding kayu yang kuhiasi pernak-pernik blink-blink.  Semakin banyak hiasan, warna, dan corak ukiran kayunya apakah menjadikan rumah panggung lebih mahal? atau ini melambangkan keluarga berkasta? Entah yang jelas kota Padang sudah sangat jarang rumah panggung ditemui kecuali kantor pemerintahan saja. Dari Batusangkar ke Bukittinggi perjalanan menghabiskan waktu hampir 2 jam, perjalanan panjang tampaknya, ditemani makanan nasi bungkus seharga 10k sudah bisa makan untuk berdua. Ternyata aku tak biasa menyesuaikan makanan dengan lidah orang Minang dengan porsi yang jumbo alamakkk.

Setelah 2 jam perjalanan sampailah aku di Bukittinggi. Disini ada banyak wisata yang belum aku singgahi, kecuali jam gadang, goa jepang, dan panorama ngarai sianok. Perjalanan seharian di hari Minggu, tidak macet parah seperti gambaran kota Bogor, yang terlihat justru dua gunung gagah yang mengampit jam gadang, dengan ramainya pasar, dan lampu warna-warni menghiasi senja yang hamapir padam. Hai Caniago, disinikah asalmu ? sudah kupulangkan engkau pada tempat semestinya. Pada cinta yang membuncah, ku sematkan kau pada angka empat tidak beromawi di puncak jam gadang yang menjadi misteriku untuk disimpan. Biarkan aku rindu pada hari-hari yang lalu, saat kau masih kuat menggeanggam jemariku, setiap hari mengabariku, dan ingin mencariku dikala aku pergi. Sekarang sudah ku lepaskan kau pergi mencari bahagia pada hati yang lain. Pulanglah Caniago pada tempat tertinggi disini, jika kelak aku punya rezeki akan ku jemput lagi kau disini. Sudah ku lengkapi wallace di Sumbar, meskipun garis wallace membentang dari Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Garis khayal ini yang memisahkan bagian barat dan timur, semoga Jubata menjadikannya saling mengenang walaupun kelak tak akan dapat berjumpa lagi. Aku cukup tahu diri, kondisiku, sikapku, keterbatasanku sebagai wanita, karirku yang biasa jauh dari parlente, hidupku yang tak tertata, segala kekuranganku yang tak dapat kau terima. Sudah cukup rasanya menjadi pecinta, yang hanya sementara dicintai. Pada akhirnya kamu memilih jalanmu sendiri, pulanglah matahari sudah tenggelam, pahlawan tak dikenalpun sudah menghitam tak terekam kamera, akupun akan kembali pulang.

“Pada akhirnya, kamu hanya perlu mensyukuri apa pun yang kamu miliki hari ini. Walaupun yang kamu tunggu tak pernah datang. Walaupun yang kamu perjuangkan tak pernah sadar dengan apa yang kamu lakukan. nikmati saja. Kelak, dia yang kamu cintai akan tahu, betapa kerasnya kamu memperjuangkannya” – Boy Candra

Bekasi, 23 Februari 2017

Catatan Sejarah Ring dan Wallace

malam kesepuluh di Januari,

hujan kembali mengetuk langit-langit ruangku,

kukirimkan harapan di setiap tetesannya yang semakin deras,

menumpahkannya dengan bebas,

ku Mohon pada Tuhan senantiasa membahagiakanmu setiap harinya,

mengembalikannya yang kini sedang mengenyam sesal,

ku harap ia kembali padamu dengan kekal,

membawakan segelas mimpi rupawan,

membangun sebuah keluarga kecil,

dan mencambukmu dalam doa dan kerja pada Tuhan

 

Pesanmu yang kusimpan, rinduku yang membuncah, kenanganmu yang terkunci tak bisa kubebaskan pergi, untuk berapa lama begini ? hidup dengan membunuh waktu, berharap akan lupa, ternyata bayanganmu kian hadir dan menjadi nyata, “ kamu jalan-jalan terus, kamu tidak mencari kekasih atau suami” katamu dini hari di tahun baru ini. Tahun baru dengan pertanyaan yang menghujam hati, perih sekali, kembali kuingat pesanku pada ibu “ bun, aku ingin menabung untuk jalan-jalan dan persiapan ketika aku sakit lagi, aku tidak ingin menikah !” .

Melupakanmu dengan melakukan perjalanan kesana-kemari yang kau sebut “menikmati hidup” apakah kau tahu rasanya kehilangan arah?. Mau sekeras apapun melangkah tak akan pernah lupa, jika itu harapannya, ku paksa langkahku kerja rodi untuk membunuh waktu, ku harap dapat lelah dan bisa tidur pulas.

Langkah , membawamu pergi meninggalkan luka, meskipun ada jejak yang tertinggal, tetapi ingatlah, langkah membawamu membahagiakan orang lain, memberi suka tawa diperjalanannya sedangkan duka hanya hiburannya,

Langkah mengajariku arti tulus, menjadi tulus menenangkan jiwa, memberi jawaban apakah kau dapat dicintai, tak ada langkah yang membawamu untuk ingin dibenci

Langkah, menggambarkanmu arti jalanan kering dan basah, panas dan dingin, berlumpur dan berbatu, terjal dan berliku, naik dan turun. Akh….terlalu hebatnya ia

Langkah, selalu menjadi teman yang setia, tidak bermodus, tidak menginginkan pujian, tidak mengeluh, dan ia apa adanya. Jika letih ia meminta rehat, jika pulih ia mantap untuk diayuh kembali.

 

 

Aku masih asik dengan cerita cintamu, cerita cinta romantismu dengannya. Ku harap ini bisa membakar perasaanku menjadi debu, lalu hilang. Setidaknya cara melupakan sudah tak mampu ku pakai lagi. Biarkan caraku membunuh perlahan perasaanku. Ketika membaca pesanmu berulang-ulang aku merasa geli sendiri prihal jodoh, pernah ku ambil cara menguburmu dengan menyegerakan menikah. Hanya Tuhan tidak ridha pada pilihan gilaku. Lamaran sudah direncanakan, sepasang cincin sudah sukses mendarat di tempatnya, namun siapa pasanganya? Tuhan masih menyimpan dengan rapih dan menjadi misteri hingga kini. Aku terlalu naif untuk menyebutnya “ingin menikah” itu terlalu abu-abu. Ku lupakan niat suci itu, sadar diri aku belum sebaik itu. Sepasang cincin yang ku beli masih tersimpan manis di kantung kain berwarna merah. Warna yang cerah untuk imlek tahun ini.

Jpeg

sepasang cincin tak bertuan

Jadi kalau kau bilang aku tak mencari kekasih atau suami, akan ku jawab sudah pernah aku lakukan untuk menguburmu. Ternyata Tuhan lebih tahu, aku tak pantas untuk itu. Kelak kalau kau menemukan beberapa kalimat terkutukku, tutuplah matamu, bayangkan saja aku pernah membisikkan dongeng untukmu agar terlelap tiap malamnya. Aku akan mati dan kaupun juga sama, kuharap kau bisa hidup bahagia. Karena kau meminta padaku “ jadilah wanita kuat” maka akupun belajar untuk itu, karena kau memintaku “bekerja disekolah” maka akupun memilihnya dan aku jatuh cinta setiap harinya. Onrust ialah aku. Ku harap akan membunuh waktu untuk tidak mengenangmu dan secepatnya melengkapi wallace di ranah minang. continue

 

Cerita Tour Jeep Merapi

edelweis disana berlomba antara tumbuh tetap lestari dengan eksploitasi
.
.
Yang indah tetap ia yang masih tertancap di tanah, karena warna kuning ditemani dengan si hijau yg tak ada duanya.

14939334_10208037625925537_6927081052767635032_o

Bunga Edelweis yang sudah dimodifikasi dan siap diperjualbelikan

 

Owl, yang dipaksa bekerja siang itu sebagai model, seandainya ia bisa jadi endorsnya sikidang, sudah berapa omsetnya dalam sebulan?
.
.
Sayang sekali, ia hanya seekor owl, meskipun ia karnivora tetap saja akan kalah dengan predatornya manusia

 

14990898_10208037617405324_985794501934308410_o

Si owl yang menjadi model dadakan di Sikidang

Foto By: Agile dengan kamera digital Lumix DC Vario ( DMC-FH1) Panasonic

Tak Bertuan di Negeri Para Wayang

P1060183

Gardu selamat datang di Negeri para wayang (foto by: agile)

Bertemu pada hijaunya alam semesta,

Membuat lupa apa itu berduka,

Tak kusangka betapa ini sempurna,

Rasanya hanya ada bahagia,

Kukabarkan pada beranda sosial media,

Bahwa kakiku telah berpijak disana,

Di tempat tertinggi para Dewa,

Dan bersemayamnya Srikandi serta Arjuna,

Magisnya candi hindu dan ciamiknya telogo worno membuat mataku terpana,

Sebentar saja aku berada diantara mereka,

Sejatinya hanya akan ada potret kekalku sedang bersuka cita,

Pada kitab pedoman hidupku, Tuhan mengajakku untuk keliling dunia,

Setidaknya langkahku pernah berpijak di Negeriku Indonesia

(Dieng, 06-08 Mei 2016)

Bersama hujan, hari Senin di toko bakmi

hujan2

Diamku pada rindu yang dirasa sendiri,

Sepiku pada hingar-bingar keramaian yang dirasa sendiri,

Ada pria yang diam-diam menawarkan diri,

Berkenalan dan ia mulai sendiri.

Entah artinya hujan di siang bolong saat itu,

Sepedah motorku melaju untuk menepi pada toko bakmi,

Ku isi perut yang menggerutu dengan nasi bukan dengan bakmi,

Diam-diam ada pria yang melirik aku yang duduk sendiri,

Ku abaikan karena perutku sudah padat berisi,

Sudah ku ikhlaskan kostumku mandi,

Bersama hujan yang akhirnya berhenti,

Kutinggalkan toko bakmi yang terletak di tepi.

 

Catatan: Apa yang membuat pria tertarik pada wanita pertama kali dilihatnya? [pertama] penampilan, [kedua] karena ia duduk sendiri

“yellow lalu melow…”

Yellow

Baru sebentar aku disapa dengan merdu,
Diberi cinta beraroma kamboja kuning,
Disayang dengan motif perhatian,
Dibahagiakan dalam rangkulan pertemanan….

Hanya sebentar….
Tak jelas apakah bisa direka ulang? Kalau ada cctv saat itu,ingin rasanya memutar kembali….

Hanya sebentar….
Tak jelas apakah bisa kembali lagi di waktu yg akan datang?
Kalau ada catatan perjalanan saat itu, ingin rasanya kubaca lagi….

Bahagia cukup sebentar
Sedih sebentar

Hidup sebentar pula
Akan ada waktunya kekal

Sebentar, ada janur kuning menggantung
Ia menandakan senang

Sebentar, ada bendera kuning di tiang
Ia menandakan duka

Tidak jelas warna “kuning” maknanya,

Jelas sekali ada rahasia diantara kita….

(diiringi melodi “menjaga hati: Yovie & Nuno)

Aku dan Guruku

Aku hanya seorang perempuan yang dengan ringkihnya belajar untuk senang, seorang perempuan yang dengan emosinya berjuang menjadi dewasa. Aku cenderung senang bercerita melalui tulisan, dibandingkan dengan lisan yang membuat tata bahasaku tidak karuan, volumenya kadang ngadat, lidahnya kadang keserimpet, dan lobus parietalisnya langsung blank sementara, padahal sementara itu penting karena membuat orang paham apa yang sedang disampaikan. Herannya aku sudah menjadi “guru” hampir 3 tahun ini. Bagaimana aku bisa menyampaikan materi secara lisan kepada siswaku?  bagaimana pula mereka paham apa maksud penyampainku? ini mukzizat Dari-Nya, ketika aku memilih dunia ini, ya dunia mengajar, yang semasa kecilku sudah menjadi keahlianku mengajar para bocah-bocah ingusan disekitar rumah. Dunia ini mengiasi hariku, rupiah satu dua perak bisa membuatku berfoya-foya, meskipun aku paham rupiah ini jauh dari sempurnanya para parlente. Cerita Umar Bakri seorang guru yang melarat, tetapi dedikasinya pada dunia pendidikan begitu memikat buatku, banyak orang-orang yang mengikuti jejaknya, seperti perjuangan guru di pelosok Negri ini, gajinya jauh dari kata cukup, namun pengabdiannya tanpa disumpah untuk mencerdaskan Negri ini tetap diperjuangkan. Aku iri sungguh iri, kenapa? karena aku meng’hargai’ keringatku mengajar dan mengabdi dengan nilai rupiah, aaakhh aku masih belum bisa dewasa dan seroyal mereka para pahlawan tanpa tanda jasa. Aku masih meminta jasa dengan rupiah, menikmatinya untuk berfoya-foya.

Mengapa siswaku dapat mengerti bahasa amburadulku ? mengapa mereka menerimaku dan memaklumi kesalahanku saat belajar? ini juga mukzizat Dari-Nya, semua begitu dimudahkan, pembawaanku yang riang, senang mendengar cerita orang lain, mampu bersabar saat para jurassic (siswa) sangat berisik tidak karuan dan aku tidak pernah marah-marah hingga membuat mereka menjadi tegang, aku justru ikut tertawa bersama, bahkan sampai merayu mereka untuk kembali mau belajar, kembali pada misi dan visi bersama. Satu hal yang jelas sangat berbeda, aku bisa sangat sabar menghadapi mereka dibandingkan menghadapi masalahku sendiri. Aku justru cepat merasa lemah, rapuh mengatasi masalahku sendiri. Terima kasih kalian para penghibur, duniaku…dunia yang hanya aku punya mau menerima segala kekuranganku, dunia yang tak pernah merampas bahagiaku, dunia yang menjanjikanku satu hal terindah di akhirat sana….

Yang paling berharga dari cinta adalah ketulusan untuk memberi.
Yang paling dalam dari cinta adalah keberanian untuk menerima.
Yang paling mengagumkan dari cinta adalah kesanggupan untuk tetap setia

Fahd Pahdepie

aku kini “Guru” dan mereka semua ialah “Guru terbaikku”…. siapa mereka? mereka ialah siswa-siswaku,anank-anakku, teman terbaikku, adik-adikku, dan saudaraku.

pesan-kesan mereka untukku

From micha
Buat kaka aduh dabest lah pokoknya, sukses terus yaa kaa, maaf kaa buat selama ngajarin saya di kelas suka petakilan suka gasopan

From edoardo jovan
Kritiknya di tulisan Kak, kekecilan agak susah jadinya pas baca..wkwk
Padahal tulisannya Bagus..wkwk Kalo saran, sih be yourself aja Kak..wkwk
Itu aja Kak dr jopan..wkwk

From iol
Kesan : selama di ajarin ka ragil itu enak banget cepet paham kalau di ajarinnn sama kaka , asik banget kaka orangnya
Saran : semoga kaka lebih sabar lagi ya kaaaa dalam menghadapi murid2 yang lebih nakal wkwk

From kintan
Ka ragil oh ka ragil..Kesan : Pertama kali kenalan sama kakak di ruang guru kayak ngeliat bidadari turun dari lembaga bimbingan belajar. Kakak ramah parah, baik parah, sabar parah pake banget. Parah banget deh pokoknya. Tulisannya pitik tapi bagus, gambarnya juga. Terbaiklah pokoknya.Saran : gaada yg perlu disarankan lg, pengajaran yg kakak berikan sudah terbaik banget. Walaupun hari ini inget terus besoknya langsung lupa. Jangan lupa istirahat ka, ngajar selalu full time dari pagi ampe malem.Love you Ka ragil

From nadya
dari saya kak, intinya, cuma mau bilang,
kakak itu rejeki dr Tuhan buat kita, disaat udh hopeless un bio bakal kayak apa, eh kakak dtng meluangkan waktu dan tenaganya padahal jauuhh😂😂
terima kasih banyak kak atas waktu dan ilmunya

From ega
saran: tetap semangat ya ka ragil buat ngajarnyaa, tulisannya gedein dikit lagi kaa. pokoknya do the best kaakesan:di ajar ka ragil seru asik, tp ega suka tidur mulu wkwkwk maap kaka. bakal kangen sm kakaaa (cry)

 

beberapa cerita yang dialami selama mengajar

Namanya Arsyaf siswa kls 9, siswa yg baru bergabung di akhir tahun 2015, pertama kali ketemu
S: “sepertinya saya baru berjumpa dgnmu,siapa namanya,sekolah dimana,kamu siswa baru atau pindah kelas?” Tanya saya rempong
A: menjawab sambil terbata2 “Arrsyaff ya arsyaff, iiiiyaa kaa s’aya baa’aaru,sekolah di jakarta islamic s****”
S: saya coba mengulang namanya biar tak lupa “asyaraf yah, di jis yg dikalimalang yah?”
A: buukaan asyraf ka arsyaf, iya ka di kalimalang “masih terbata dan suaranya suka bergumam”
S: ekhh Arsyaf maaf, arsyaf, bagaimana nilai ipa semester 1? Masih ada peringkat di kelas?
A: alhamdulillah bagus ka, peringkat 1 dikelas
S:alhamdulillah, peringkat 1 yh, ya sudah silahkan pulang saja “kata saya”
A: tampak kaget tetapi masih senyum
*siswa lain menggerutu (parah nih si kk)
S: sambil ketawa “soalnya kamu sudah pintar masih butuh belajar lagi yah?sudah peringkat 1 loh, hehehe becanda yh arsyaf, belajar itu hukumnya wajib sampai akhir menutup mata, semoga peringkatnya dipertahnkan dgn nilai meningkat, dan kalian mendapat un dgn hasil optimum aamiin” disini kamu jadi pria paling tampan, krn kelas ini isinya perempuan coba kalian kenalan dgn arsyaf yh
*namanya siswi pasti rame kalau kenalan, terutama Gipet (maunya dipanggil begitu padahal namany cantik Gifta putri, suaranya 2x lebih gede dari saya,coba bayangkan sendiri lah)

Jumat di pekan ini Arsyaf telat 15 menit sebelum bel belajar berakhir, biasanya ia telat hanya beberapa menit setelah bel masuk, saat masuk pasti selalu dgn terbata2 minta maaf, saya selalu bilang ucapkan salam dulu,tetapi hari ini saya langsung melihat tangannya disilotipe dgn kasa seperti habis tes darah, ternyata benar ia dari rumah sakit, menunggu hasil lab keluar dia malah melancong ke kelas buat belajar (rs emang dekat dari tempat ia belajar, cuma klo siswa lain mungkin enggan belajar saat sakit)

S: kamu kok masuk arsyaf, kan lagi sakit? Tanya saya
A: iya gapa2 ka, tadi habis nganter ibu dan adik saya jg ke rumah sakit mereka positif kena tipes, saya sekalian cek darah, hari ini juga saya masuk sekolah krn ada ujian praktikum
S: kamu demam dari hari apa?batuk juga yah? (Sok jadi dokter tanya2)
A: sudah 5hari ka, dari senin (sambil batuk yg keras)
S: aduhhh batuknya, yakin mau belajar arsyaf 15 menit lagi mau bel pulang, kamu mau belajar sesi selanjutnya sampai jam 19.00
A: iya ka mau sesi selanjutnya saja, saya ijin ashar dlu yah
*si Yasmin siswi saya heran, aku mah klo sakit mending dirumah ka

Selama 90menit pendingin ruangan udah saya naikan suhunya,sebenarnya udah keringatan, dan bau ruangan jadi aneh krn pengap, tetapi arsyaf masih kedinginan, dan wajahnya malah jadi tampak pucat, beberapa kali bilang arsyaf masih kuat? Dia mengangguk, masih tetap menghitung dan mengerjakan soal
Masya Allah….
Cambuk lagi saya terinspirasi dari siswa loh !

Sudah cukup banyak saya menemukan siswa belajar krn tuntutan orangtua, namun hanya beberapa saja yg saya temukan siswa belajar krn kemauan,krn pilihannya sendiri !

Semoga cita-cita kalian tercapai nak aamiin

 

green tea latte

3410896826_130eecb738

 

kalau hidup seperti rasa langu green tea latte

mungkin gayamu tidak akan senecis para parlente

hidup seperti di arena judi, ditemani green tea latte

mendengar orang menyesali hidup lalu ingin mate (mati !)

***

andai hidup terasa manis semu seperti green tea latte

andai hidup terasa pahit abadi seperti green tea latte

kamu akan dijanjikan oleh aromanya yang nikmat

kamu akan dijamu oleh hijaunya yang teduh hingga membuatmu terpikat

***

masalah hidup tak jauh dari harta

uang tak ada, lantas harus mati sia-sia?

hidup memang bukan hanya perkara dunia

lantas tugas kita berlapang dada….

***

secangkir green tea latte menemani saya bermalam manja

dengan hijau muda menyatulah air bening tak bernoda

ku persembahkan pada dahaga yang telah kering kerontang

sedangkan perut sedang berdendang….